
Daaaaan… sekarang saya menemukan diri saya duduk di McDonalds Kota Bharu Kelantan Malaysia bersama dengan Chris from England. Saya sibuk sama hape saya, dia sibuk sama laptopnya.
We met this morning di kapal dari Pulau Perhentian ke Kuala Besut. Dan habis itu saya, Chris, dan Bruce from Australia share taksi buat balik ke Kota Bharu. AWSOME!
Oke, cerita saya gak jelas memang. Saya akan ceritakan dari awal.
Hari-hari awal saya di Malaysia sangat membosankan. That’s why I planned to go to Pulau Perhentian. Tanggal 29 Januari saya dan dua teman saya, Maria from Netherlands dan Iriny from Australia, sudah beli tiket pesawat untuk ke sana.
Buat ke Pulau Perhentian saya harus naek pesawat ke Kota Bharu, trus dari sana ke Kuala Besut, trus dari Kuala Besut naek kapal ke Pulau Perhentian.
Bahasa lebay nya sih… I’ve spent my whole life in Malaysia nungguin tanggal 17 Februari 2010 buat ke Pulau Perhentian.
Dan tanggal 16, Maria sakit. I can’t blame her. Tapi yang jelas saya kesel banget. Saya harap-harap cemas soal Iriny. Saya gak terlalu deket sama dia. Dan di pagi saya mau berangkat… Iriny batalin juga. Well, saya emang sebenernya sedikit berharap dia gak ikut. I couldn’t get along with her.
I was so prepared dan saya tau gak bisa ngelewatin ini gitu aja. Saya harus pergi apa pun yang terjadi. Lalu tau-tau aja saya udah duduk di pesawat ke Kota Bharu, sendirian.
Sebenernya salah satu hal yang bikin saya bingung adalah soal bugdet. Taksi dari bandara ke Kuala Besut (pelabuhan sebelum ke Perhentian) harganya 80RM. Kalo saya pergi bertiga jatohnya sekitar 25 per orang dan skrg saya sendiri. Bisa gila. Lalu kamar yang tadinya juga mau di share, jadi saya sendiri yang harus bayar. Aaaaaaaaa!!!
So I decide to go to the city for one night lalu baru ambil keputusan di sana. Kalopun saya gak ke Perhentian, saya tetep di Kota Bharu. Anywhere. I would not cancel my trip. Somehow I knew this would be my best experience. Travelling Alone.
Thank God I have Lonely Planet. VERY USEFUL. Saya telpon salah satu budget hotel yang direkomenin di buku itu dan it was great. Saya sampe dengan selamat di KB Backpakers. The owner, Pawi, is super nice guy. Dan saya yang tadinya hopeless soal Perhentian, langsung semangat begitu tau ada taksi 45RM buat ke Kuala Besut.
The next day, saya sudah di Perhentian.
Saya memang gak pinter bikin kata-kata buat nunjukin gimana bagusnya Perhentian. Saya punya DSLR tapi saya juga gak (errr… belom) bisa bikin gambar yang bagus buat nunjukin gimana Perhentian bisa bikin saya merinding.
Perhentian is totally awsome.
Tapi yang lebih penting dari pantainya buat saya adalah kesempatan saya buat travelling sendirian kali ini.
I’m not a loner. Bahkan berat banget buat saya untuk makan sendirian di tempat umum. I’m not get used to be alone. Saya menghindari pergi sendirian kecuali terpaksa. Well, saya memang bukan orang dengan sejuta teman tapi saya biasa berada di dekat teman saya ato keluarga or if i have, pacar. I’m not a social person, but I tend to be with someone that I love. Dan di sini saya harus melakukan semuanya sendirian. And for sure, sendirian. S-E-N-D-I-R-I. No one picks me up. I planned things by my self, and just… yah. Gitulah.
And that’s how I find another side of me.
Waktu sampe di Kota Bharu, saya pilih naek bis dari bandara ke Central Bus Station, tengah kota. Saya duduk bareng di halte bis di bandara sama dua orang stranger entah dari mana. Besokannya waktu gak sengaja ketemu di Perhentian, we greeted each other like and old friend. The feeling was awsome!!! It was beautiful.
Saya bukan orang yang maha ramah ke semua orang. Dan di Perhentian, I find my self smiling to everyone, to stranger. I like it. And I promise my self to keep being like that after I get back.
It’s good to see your self being better!
Other than that, I feel like I see the world. Saya ngelihat mata orang yang bagus-bagus banget!!! Biru, ijo aaaahh.. matanya ‘bule’ bagus-bagus banget and I mean it.
Perhentian is full of stranger I think.
Oya, Pulau Perhentian ada dua. Besar dan Kecil. Saya pergi ke Kecil. The one where the backpackers choose. It’s cheaper. Dan saya gak nemu satu pun turis lokal di sini. Saya berangkat bareng sama orang Malay, tapi dia ke Besar. Yeah, but I’m happy with my choice. Kecil is awsome!
Lalu pas balik ke Kuala Besut tadi pagi, saya ketemu sama 2 orang. Ya itu tadi, Chris sama Bruce. Dan akhirnya kita memutuskan untuk share taksi. 50RM yang harusnya saya bayar sendiri, jadi di share! With stranger! Aaaahhh, mungkin ini biasa aja buat beberapa orang. Tapi ini jelas luar biasa buat saya. Bangga sama diri sendiri sedikit boleh lah ya.. :p
I was mad at first. Tapi saya sangat bersyukur saya pergi sendirian ke sini. For everything that I get, that I feel. I feel so grateful. :’)
Di Perhentian saya juga berhenti dan berpikir, tentang banyak hal. About present, future, dan segimanapun mau ngehindar juga.. past tetep kepikiran. But it’s good to have a getaway. Dari awal saya berangkat ke Malaysia saya juga sudah berharap ini bakal jadi getaway saya. And when I stopped at Perhentian i just know… this is it.