Archive | fiction RSS feed for this section

cerpen

17 Dec

baiklahh.. ternyata penderitaan gue ngikut kelas Dasar-dasar Penulisan belum berakhir. dan gue kemaren DISURUH BIKIN CERPEN! masyaoloh!!!

setengah mati gue pusing nyari ide. dan gue bukanlah tipikal orang yang bisa memilih kata-kata yang membuat hasil karya gue itu menjadi puitislah, kerenlah, blablabla. hoh. bikin cerpen kacangan kayak gini aja, it was a struggle for me, y know?

yayaya. gue ngerti kalo gue mesti latian. dan berhubung gue kepedean. ini cerpennya. anjir gue malu banget. cerpen gue adalah cerita-cinta-MURAHAN-nahjong-jijay-lah pokoknya!

met baca, if you want to only! hahahahahah..

Ah, dasar laki-laki!

Damned boys. Begitu banyak cerita yang membuat aku sangat yakin bahwa cowok atau laki-laki atau pria atau apapunlah itu, aku lebih suka menyebut mereka makhluk tak berotak, adalah makhluk yang paling tidak bisa bersyukur. Ah, dasar laki-laki!

Kemarin Anna bercerita sambil menangis tentang pacarnya, eh, mantannya, Rudi, yang tiba-tiba saja memutuskannya dan jadian dengan Fira, cewek yang terkenal bohai tapi otaknya kosong. Ah, betapa laki-laki itu tidak bisa besyukur. Padahal Anna adalah idola di SMAku. Bisa-bisanya Rudi meninggalkannya untuk perempuan lain yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Anna.

Kali ini sahabatku, Dina, yang menjadi korban kejahatan laki-laki. Dasar makhluk tak berperasaan! Amet, laki-laki yang selama ini memberinya harapan untuk menjadi kekasihnya, tiba-tiba jadian dengan orang lain. Padahal, Dina sudah mulai sayang pada Amet. Ah, kasihan Dina.

Cerita Dina hanyalah secuil cerita kecil yang membuatku semakin membenci laki-laki. Nina, Maria, Bela. Ah, begitu banyak sahabatku yang menghabiskan air mata mereka; meratapi nasib mereka yang mereka anggap malang. Padahal menurutku, para laki-laki itu yang malang. Laki-laki itu yang membuang ‘harta’ yang sebenarnya sudah mereka miliki untuk hal-hal sepele. Aku, yang telah melihat semua hal itu, akhirnya berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah berpacaran sebelum lulus SMA. Ya, aku berjanji.

Banyak teman yang menghinaku karena aku memiliki pandangan yang aneh tentang berpacaran. Menurut mereka aku cupu dan yang lain sebagainya tapi aku tidak peduli. Aku tidak mau sakit hati. Toh aku bahagia dengan keadaanku yang tanpa pacar meskipun jika malam minggu datang aku sering ditinggal oleh teman-temanku yang memiliki pacar. Aku tidak ambil pusing.

Kadang justru aku malah heran pada teman-temanku, mereka disakiti oleh laki-laki tapi masih saja mau berpacaran dengan mereka. Bukan berarti aku lesbian ya! Tapi aku rasa kalau pacaran cuman bikin sakit hati saja, lalu esensi dari pacaran itu apa? Tidak ada.

***

Kuliah adalah masa-masa yang menakutkan bagiku. Semuanya baru. Ah, aku tidak suka. Aku bukanlah tipikal orang yang mudah beradaptasi. Berpisah dari teman-teman lamaku begitu menyeramkan.

Sampai akhirnya aku berkenalan dengan Rio. Dia benar-benar membuatku merasa nyaman dilingkunganku yang baru ini. Dia membuatku merasa tidak sendirian lagi. Aku suka berteman dengan dia. Entah kenapa aku melihat Rio berbeda dari semua laki-laki yang pernah aku kenal. Tidak seperti laki-laki yang mengecewakan sahabat-sahabatku di SMA dulu. Bersama dengannya aku merasa sangat nyaman.

Semakin lama aku semakin dekat dengannya. Kami semakin sering pergi berdua, melakukan aktivitas bersama. Aku semakin menikmati persahabatan kami.

Cinta? Ah, masa iya? Aku sudah terlalu nyaman bersahabat dengannya. Dia sangat mengerti bagaimana memperlakukanku dengan baik. Membuatku merasa aku membutuhkan dia, dan dia pun membutuhkan aku. Aku tidak mengerti benar apa yang dimaksud dengan cinta. Yang jelas aku suka berada dekat dengan Rio.

Rio. Rio. Rio. Dia tidak berhenti mengganggu pikiranku. Aneh sekali. Tadinya aku selalu menghina sahabatku yang sering bercerita tentang pacar mereka. Menurutku tidak masuk akal jika kita memikirkan seseorang terus-menerus. Apalagi jika seseorang itu berjenis kelamin laki-laki – yang memiliki citra buruk di mataku. Tapi kali ini semuanya terasa berbeda. Dia, Rio, yang membuatku merasa benar-benar perempuan.

“Ta, menurut gue, Rio suka deh sama lo..” Ucapan Rani, sahabatku di kampusku, membuatku tersentak. “Ah, enggakk.. Kita mah udah temenan banget, Ran! Gak mungkin ada feeling apa-apa. Lo gak usah bikin gosip deh!” jawabku sambil mendorongnya tanda penolakan. Anehnya, hatiku senang sekali mendengar Rani berkata demikian.

Malam ini, aku tidak berhenti memikirkan perkataan Rani. Dia hanya mengatakan sebuah kalimat yang membuatku merasa di sorga. Aku tidak mengerti mengapa hatiku sangat menginginkan bahwa yang dikatakan Rani itu adalah sebuah kebenaran.

Jika aku pikirkan lagi, aku meras perkataan Rani ada benarnya. Aku dan Rio saling memanggil dengan panggilan aku-kamu. Menurut orang mungkin biasa-biasa saja tapi menurutku ini spesial, karena kami biasa bergaul dengan teman-teman yang lain dengan panggilan gue-elo. Ah, aku jadi merasa ge er.

Eh, kok aku jadi kangen ya sama Rio? Kuberanikan diriku untuk mengirimkan SMS padanya dan bertanya, “Lg ap?” Hatiku berdegup kencang menunggu balasan darinya. Dan ketika balasannya datang, rasanya seperti mendapatkan hadiah iPod touch dari papa hadiah ulang tahunku ke-18 beberapa bulan yang lalu. “Lg kangen nih sm km. Jalan yuuk bsk? Minggu-minggu gt..”

Hah? Entah mengapa aku senang sekali membaca balasan darinya. Kami sering jalan berdua tapi ajakannya kali ini terasa berbeda. Segera aku balas, “Ok ok.. Jmpt ak ya. Jmnya tsrh km.” Apa gara-gara perkataan Rani tadi siang, ya? Benarkan Rio suka padaku? Pertanyaan-pertanyaan di kepalaku itu aku simpan sampai kubawa tidur. Membuat mimpiku menjadi indah sekali.

***

“Na, aku sayang sama kamu. Mau gak jadi pacarku?”

Rasanya seperti mendapatkan gelar Ratu, aku senang sekali mendengar Rio. Aku senang, sekaligus takut. Aku takut melihat begitu banyak temanku yang dikecewakan oleh laki-laki. Aku takut menangis. Aku takut kecewa. Aku takut sakit hati. Akhirnya pun aku hanya bisa menjawab, “Aku jawab besok ya Rio.. Aku belum siap sekarang..”

***

“Na, apa sih yang bikin lo gak yakin buat jadian sama Rio? Dia tuh baik banget sama lo. Dan gue ngeliat lo cocok banget sama dia! Kenapa coba?” cerocos Rani saat aku menceritakan kejadian kemarin padanya dan mengatakan padanya bahwa aku tidak yakin untuk berpacaran dengannya. Ah, memikirkan ini membuatku sakit kepala!

Malam tadi aku tidak bisa tidur. Aku sangat senang sekaligus sangat bingung. Aku telah melihat begitu banyak sahabatku yang dikecewakan oleh laki-laki. Dan aku terlalu takut untuk dikecewakan.

Di sisi lain aku juga ingin merasakan indahnya pacaran. Tidak dapat aku pungkiri bahwa terkadang aku iri dengan teman-teman yang menceritakan betapa bahagianya mereka memiliki seseorang yang mereka sayang dan sayang pada mereka. Ah, aku benar-benar bingung. Kenapa aku jadi plin-plan begini sih? Aku teringat janjiku untuk tidak berpacaran sebelum lulus SMA. Sekarang aku sudah lulus SMA, aku sudah tidak terikat lagi dengan janji itu, jadi boleh dong kalau aku sekarang berpacaran? Ah, bingungnya aku.

Dan siang ini aku memutuskan untuk curhat pada Rani. aku kaget mendengar perkataannya tadi. Kok dia berpikir bahwa aku dan Rio cocok, ya? Aku jadi senang. Sebenarnya dalam hati aku melonjak girang, tapi aku menahannya. “Ah, masa iya? Gue takut kecewa, Ran! Lo udah liat kan betapa banyaknya cowok yang udah bikin temen-temen kita patah hati?” tolakku. “Tapi lo juga pernah liat kan bahwa banyak dari mereka yang bahagia sama pacar mereka? Kejadian sakit hati itu kan bagian dari proses hubungan itu, Ta! Gak mungkin lo ngarepin hubungan yang standar-standar aja. Kalo hubungan lo hepi-hepi terus mungkin malah jadi terasa membosankan..”

***

“Iya Rio, aku mau jadi pacar kamu!”

Kalimat itu yang aku keluarkan ketika malam ini Rio datang ke rumahku, untuk menagih jawaban dariku. Dan aku sangat bahagia melihatnya tersenyum lebar mendengar jawabanku demikian. Ya Tuhan, aku tidak percaya akhirnya aku punya pacar. Dan aku yakin, ini langkah awal yang indah. Langkah awal yang bisa membuat aku bahagia. Aku yakin Rio tidak akan mengecewakan aku. Ah, aku yakin sekali.

***

“Nana! Apa kabar? Gue denger lo udah punya pacar ya sekarang?” teriak Dina, sahabatku di kala SMA dulu, ketika meneleponku di suatu Minggu pagi. “Ah, lo tu yee.. udah jarang hubungin gue lagi, sekarang bangunin gue dengan suara cempreng lo itu! Sial!” jawabku sambil bermalas-malasan. Sungguh kesal aku pada Dina yang membangunkan aku di pagi ini. Padahal aku lelah sekali. Tadi malam aku pergi bersama dengan Rio, menikmati malam minggu pertama kamu setelah kami jadian hari Senin yang lalu. Ah, tak apalah. Aku senang Dina meneleponku, berarti dia peduli padaku.

“Iya Dina, gue jadian,” jawabku singkat. “Sama siapa? Kapan? Kok bisa? Akhirnya ada juga cowok yang bisa naklukin hati lo?” serang Dina. Dia memang sangat cerewet.

“Sama Rio, temen gue di kampus sekarang Din, gue udah pernah cerita kan ke elo. Temen-temen baru gue di kampus ini?” jawabku singkat. “Tunggu, tunggu. Gue inget.. Lo pernah cerita temen baru lo yang deket itu Rio sama Rani, kan? Yang pernah lo kenalin ke gue itu kan? Ya ya ya.. Kapan jadian? Baru banget ya? Baru dua hari ya?” Dina kembali nyerocos di telepon. “Dari hari Senen kok Din. Kenapa lo nanya gitu?” aneh rasanya ketika Dina bertanya seperti itu.

“Oh, enggak. Baru hari Rabu kemaren gue liat Rio sama Rani ciuman di deket kampus lo..”

Ah, dasar laki-laki!

writing things

3 Dec

kayaknya judul blog gue yang bilang gue pengen dapet nilai A di mata kuliah daspen adalah mimpi yang akan sangat sulit terwujud. yah, mungkin gue terdengar sangat hopeless tapi gue juga sadar diri. hoh. i’m not good enough on writing. huhuhuhu.

jadi gini, daspen itu singkatan daru Dasar-dasar Penulisan. wooooooooot a name! dari namanya aja, gue udah langsung jiper duluan. tadinya gue pikir mata kuliah ini mirip-mirip sama bahasa endonesia yang gue dapet dari sd-sma dolo. ternyata.. mirip sih, cuman beda tekanan aja. kalo dulu gue menganggap bahasa indonesia adalah mata pelajaran yang paling bisa digampangin, sekarang gue menganggap bahwa mata kuliah yang paling gak bisa digampangin.

sebelnya, kalo gue berkeluh sama temen-temen gue tentang hal ini, gue jadi suka di-underestimate-in gituu..

contohnya adalah kemaren. gue, kumpul-kumpul sama temen-temen gue dan gue cerita kalo siangnya gue disuruh bikin puisi. lo tau komentar temen-temen gue? ini yang paling bikin gue gondok :
della said, “GOSH! bin, lo masih disuruh aja bikin puisiiii????”

OKE. itu tugas gue sayaaaaaaaaang dan gue gak bisa nolak. terimakasih karena telah membuat gue makin gondok. hahahahaha, pis della sayaaaaangg..

oh well, dan memang, GUE ENGGAK BISA BIKIN PUISI. ehm, gini deh.. gue sebenernya gak tau puisi yang bagus tuh yang kayak apa.. yang puisinya berkata-kata bagus, ato yang dalem, ato yang ngena di hati? i don’t really get the ‘point’. jadi sejauh yang gue rasa ketika gue bikin puisi gue (YANG ITU JARANG BANGETT) gue selalu merasa puisi gue, oh ya lo boleh bilang gue narsis, BAGUS. hahahahaha.

kemaren pun gue ngerasa puisi gue bagus TAPI begitu gue denger puisi temen-temen gue, gue langsung mengkeret dan ngerasa puisi gue jelek. puisi temen-temen gue rata-rata berkata-kata puitis, romantis, keren ddahh.. but to be honest i don’t enjoy poetry that way.. i love the simple one. yang kata-katanya biasa aja, tapi dalemmmm.

hahahahaha.. oke, sekarang gue akan melakukan sebuah GEBRAKAN baruuu.. hahahahaha. gue akan menuliskan puisi yang gue biki kemaren di sini, di blog gue. hahahahahaha.

kalo aku punya pintu ke mana saja,
aku mau ke bali, menikmati indahnya alam.
aku mau ke disneyland, bermain dan bersenang semauku.
aku mau ke kutub utara, menikmati dinginnya salju.
aku mau ke puncak menara eiffel, menguasai dunia.
dan kalau aku sudah hampir mati nanti,
aku mau ke gereja, supaya aku masuk surga.

binar, 021208, 1pm

oke, fine, gue gakpapa kok kalo lo ketawa. hahahahaha. gue pun ketawa. oh, well.. gue malu majangnyaaa.. tapi biar deh ahhh..

who’s care?

hem, hari ini nyokap mau dateng, dan oooooooooooooooh GOD kamar gue berantakan banget!!! mau gue sapu dulu deh paling enggakk.. hehehehehe.

happy wednesdayyyy everyone.. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.