Archive | May, 2011

#31 Negeri 31 Hari

31 May

Mari saya perkenalkan pada Anda, negeri di mana saya menjadi seseorang yang berbeda.

Negeri di mana saya belajar banyak tentang diri saya sendiri, melalui tulisan saya dan melalui tulisan orang lain.

Selama tiga puluh satu hari saya belajar untuk memaksa diri saya menulis. Hal yang tadinya bukan jadi perhatian saya.

Negeri ini mengenalkan saya akan menertawakan tulisan orang dan rasa malu ketika menyadari bahwa tulisan saya yang ternyata layak ditertawakan. Negeri ini penuh tawa, curiga, dan misteri otak tiap penulisnya.

Negeri ini memberi tahu saya bahwa tiap orang punya cara sendiri untuk menyingkap rahasia mereka masing-masing melalui tiap kata yang mereka rangkai.

Negeri ini sangat dinamis, sangat kaya (karena denda), dan sangat menantang. Negeri ini adalah satu-satunya hal yang pernah memaksa saya untuk melakukan suatu hal secara konstan selama tiga puluh satu hari.

Rasanya menyenangkan, ketika memaksa diri saya untuk memutar otak menemukan celah tiap negara untuk ditulis. Rasanya menyenangkan ketika kamu bisa menyelipkan tiap sumpah serapah dengan cara yang lebih manis.

Ah, terima kasih mas awe rajanya negeri yang pernah mengisi hari saya ini.

Menyadur, eh, menjiplak cara mbak ocha menutup tiap postingannya,
Playlist : kopi dangdut di acaranya anak hukum
Kostum : jaket+celana jeans
Cemilan : gak ada

Terima kasih, saya memiliki 31 hari terproduktif yang pernah saya punya. :)

#30 Ngayogjakarta Hadiningrat

30 May

Hari ini saya berjalan-jalan berkeliling kota tempat saya tinggal: Jogja. Besok SNMPTN, dan saya melihat banyaaak sekali orang. Dan pikiran saya berkelana ke suatu perasaan yang paling saya benci: kegagalan.

Seumur hidup saya, saya tidak pernah gagal. Saya masuk SD, SMP, SMA, IPA sesuai dengan apa yang saya mau. Dan ketika ditolak SPMB saya yang pertama, saat itulah saya berkenalan dengan kegagalan.

Pernah gagal menjadi sesuatu yang menyakitkan, sekaligus membanggakan ketika kamu tahu kamu sudah bisa melewatinya dengan baik.

Ya, Ngayogjakarta Hadiningrat membisikan pada saya bahwa kegagalan mungkin tidak membawa saya kemana-mana, tapi dia memberikan senyuman sebagai gantinya. Walau mungkin lama bagi saya untuk menyadarinya.

#29 Thailand

29 May

Selain gajah, coba sebutkan hal yang Anda pikirkan tentang Thailand!

Kalo saya sih, waria.

Membicarakan waria sepertinya terlalu luas. Kita bisa bicara tentang mereka yang jadi waria karena panggilan hati, menjadi waria karena tuntutan hidup, atau mungkin karena ikut-ikutan.

Tapi semuanya adalah tentang pilihan.

Bukan tentang bagaimana mereka memilih untuk menjadi atau tidak menjadi waria, tapi tentang bagaimana kita memilih untuk menghargai atau kurang menghargai mereka.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu waria yang membuat saya kesal. Dia ngamen saat saya sarapan di soto kuburan, Sagan. Saat itu ketika saya dan teman-teman menolak untuk memberi uang tiba-tiba dia berteriak, “SALAM DAMAI!” dan ketika kami memberikan uang dia kembali berteriak, “SALAM DAMAI YESUS KRISTUS!”. Yes. I was insulted.

Saya kesal, tapi kemudian saya berpikir saya tidak bisa me-generalisasikan semua waria dan jelas saya tidak bisa menyamakan waria yang hanya berdandan untuk menakut-nakuti pria dan untuk beberapa orang yang memiliki… perbedaan.

Tapi setidaknya kita bisa berusaha sebisa mungkin untuk memanusiakan manusia, ya kan?

(Yah, saya masih kesal dengan dengan waria yang ngajak ribut dengan menyebut salam damai tadi, tapi yah… dia masih manusia kan ya?)

#28 India – Bagian Dua (Selesai)

28 May

Yang luar biasa dari India adalah… Little India-nya.

Mirip dengan China Town yang ada di mana-mana, Little India punya satu kekhasan yang sama.

Bagi yang belum tahu. Little India adalah kawasan kecil di sebuah kota/negara yang akan membuat anda merasa seperti di… India. Orangnya. BAUnya. Sangat khas.

Little India untuk saya adalah campuran dignity dengan peribahasa di mana bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung. India akan tetap India, tapi dia dengan sangat lenturnya bercampur dengan budaya setempat.

Itu adalah hal yang sangat saya suka.

Kadang saya lupa kalau saya orang Jawa, kalau saya sudah tenggelam dengan kejumawaan saya dengan pikiran yang maha liberal.

Tidak untuk membatasi diri, mengingat saya sebagai Wong Jowo dan Orang Indonesia membuat saya kembali berpijak ditanah dan kembali merendahkan hati yang sudah kadung tinggi di bawa globalisasi.

#27 India – Bagian Satu

27 May

Berbicara tentang India tidak pernah ada habisnya:
Kabhi Kushi Kabhi Gam
3 Idiots
Kuch Kuch Hota He
Thaipusam
Little India

Dua hal terakhir yang saya sebutkan bukan judul film ya. Hal-hal itu adalah yang akan saya ceritakan tentang India, tapi… single message hits your head better so I’ll just tell them one-by-one.

THAIPUSAM
adalah hal yang dilakukan oleh ORANG India, yang sudah tidak dilakukan lagi di India.

Thaipusam adalah upacara tahunan yang dilakukan semacam upacara penghapusan dosa. Upacara yang terbesar saat ini dilakukan di Batu Cave, Malaysia. Selama upacara ini orang-orang membawa persembahan ke kuil dan beberapa orang mencukur habis rambut mereka. Yang ekstrim adalah mereka menyakiti diri sendiri sebagai bentuk penghapusan dosa.

Sebenernya saya gak terlalu ngeh sama maksud dan tujuan dan keinginan di balik acara tersebut, tapi tingkat ekstrimnya yang sangat tinggi itu yang membuat saya ternganga.

Saya bukan orang yang tega melihat darah di mana-mana. Dan berkali-kali saya hanya bisa menutup mata karena tidak bisa melihat orang yang melukai diri sendiri untuk “membersihkan diri”.

Dan orang yang membawa persembahan itu harus berjalan dari bawah sampai jauh ke atas seperti yang ada di foto.

Upacara ini sudah tidak dilakukan di India lagi… mungkin karena tingkat ekstrim yang berlebihan ya. Entah juga. Saya hanya mendengar dentingan dari sana-sini.

Upacara penghapusan dosa atau pembersihan diri atau apapun hampir selalu ada di tiap agama. Rasanya penting untuk tetap suci di hadapan Yang Maha Kuasa ya?

#26 San Marino

26 May

San Marino adalah negara yang tercatat sebagai negara yang tertua di dunia. Ya, menjadi tua bukanlah pilihan. Hari-hari berlangsung dan kita menjadi tua.

Kadang sebagai seseorang yang muda, saya seringkali lupa bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi tua. Bukan sekedar mejadi dewasa, menikah dan punya anak. Tapi bahwa saya akan benar-benar tua.

Hari ini saya melihat seorang Bapak yang mungkin berada di sekitar usia 50 tahun dengan kerutan di wajah. Sedang bekerja keras.

Saya melihat bapak pertama di salah satu layanan pengiriman barang ketika saya akan mengirimkan barang. Bapak itu sudah cukup tua, tapi masih dalam usia produktifnya. Saya melihat sang Bapak sedang memasukkan data ke dalam komputer. Yang menyentuh hati saya adalah bahwa saya tahu bapak itu belajar keras untuk menguasai perangkat yang ada di depannya. Saya melihat benar tiap “klik” yang dia tekan, setiap tombol keyboard yang dia sentuh untuk memasukkan data, dan betapa hati-hatinya Bapak itu agar tidak melakukan kesalahan.

Dalam hati saya tersentuh dan bangga – meskipun beliau bukan ayah saya – akan perjuangannya dalam hari tuanya.

Bapak tadi hanya sepenggal kisah orang yang sudah menua. Hal yang mengganggu otak saya bukan bahwa suatu hari nanti saya akan punya kerutan di mana-mana, tapi bahwa dunia memang sebegitu kerasnya ketika kita harus bertahan.

Atau betapa menyenangkannya dunia ini ketika kita menganggapnya demikian.

Ah, saya klise sekali. Toh memang kita menua begitu adanya. Tapi benarkah saya siap menjadi tua? Entahlah.

#25 Mesir

25 May

Masih terjadi perdebatan hingga saat ini, antara Mesir dan Cina, peradaban mana yang menemukan tulisan lebih dulu. Well, karena saya sudah pernah menulis tentang Cina, saya akan pakai Mesir sebagai judul post saya kali ini.

Menulis bagi saya bukan belum menjadi hal yang serius dilakukan. Saya menulis hanya sekedar luapan lara atau mengikuti kompetisi seperti yang saya lakukan sekarang.

Secara rutin menulis kemudian membuat saya memperhatikan beberapa hal. Misalnya, saya melihat beberapa penulis rutin lainnya sempat kehabisan ide untuk menulis dan kemudian menulis ala kadarnya hanya untuk memenuhi kewajiban. Ada pula yang sangat konstan menulis dan tulisannya sangat apik dibuat.

Dan inilah sepotong cerita saya ketika menulis untuk #31harimenulis.

Kadang ide menulis datang begitu saja dan membuat saya bergairah untuk menulisnya. Seperti pada postingan Israel.

Kadang saya tidak menemukan negara yang bisa dirasani. Saat itulah saya menciptakan negara-negara saya sendiri. Seperti pada postingan Negara-nya Sun Go Ku.

Kadang saya sangat tergesa-gesa dikejar deadline atau rasa kantuk. Lahirlah postingan mesum seperti Korea Selatan.

Kadang saya punya terlalu banyak hal untuk diceritakan. Dan di situlah saat saya malah memilih untuk tidak bercerita dan hanya akan mencari hal sederhana lain untuk dituliskan.

Seperti hari ini.

Dan saya senang, karena ternyata hari ini saya melihat apa saja bisa dituliskan. :)

#24 Saudi Arabia

24 May

Bagi saya yang non-muslim, saya memiliki ketertarikan besar terhadap negara ini: Saudi Arabia.

Kenapa? Karena ia menjadi sangat-sangat-sangat menggiurkan untuk dikunjungi. Karena saya tidak pernah mendengar satu hal pun tentang Arab, selain Umroh, Haji, dan minyak bumi yang berlimpah.

Mendengar excitement mayoritas di tempat saya tinggal membuat saya ingin… sneak a peak, seperti apa Arab itu. Hanya melihat saya. Ingin tahu.

Mungkin beberapa orang akan bertanya: hey, ngapain Binar mau ke sana? Selo, he eh?
Yah, di sela-sela hidup yang yang memang sangat selo, saya suka melihat orang-orang sedang berdoa. Rasanya adil bahwa tiap orang punya keyakinan, bahkan bagi orang yang tidak percaya Tuhan, yang penting mereka punya sesuatu untuk diyakini.

Saya percaya ke Arab akan membuat saya melihat banyak hal.


Saya memasukkan foto ini untuk menunjukkan, tidak ada tekanan tertentu terhadap Islam, ini murni tentang ketertarikan saya pada cara manusia mempunyai harapan. :)

Saya tau post ini mungkin bisa menjadi misleading post, tapi saya harap orang yang membaca cukup bijaksana untuk tidak (1) mengira saya akan menjadi Islam dan (2) mengejek Islam dengan cara menjadikan tempat ibadah sebagai pilihan tempat liburan. Terima kasih.

#23 Afrika Selatan

23 May

Ketika saya masih kecil dan belum tau apa-apa, mendengar kata Afrika adalah sebuah kelegaan karena saya merasa negara saya lebih baik.

Dan termasuk di dalamnya ketika saya mendengar cerita tentang Afrika Selatan. Saat itu yang ada di kepala saya hanyalah seonggok negara dengan mayoritas kulit hitam, negara yang sangat panas, dan sedikit terbelakang.

Salahkan film God Must Be Crazy yang ditonton ayah saya berkali-kali. Di bayangan saya saat itu, setting film tersebut adalah di Afrika, errr sampai saat ini saya sebenernya ga tau setting God Must Be Crazy itu dimana. Afrika di kepala saya (saat itu) ya benua yang semua orang di dalamnya hanya pake celana dalam kemana-mana.

Yang namanya stereotype (walaupun hanya ada di otak saya) tetap lah stereotype. Dia membuat saya pada akhirnya meng-underestimate Afrika Selatan sampai akhirnya saya tahu kalau ternyata Afrika Selatan adalah keren.

Mata saya sudah sedikit melek ketika saya masuk SMP, tapi puncaknya saat Piala Dunia beberapa waktu yang lalu. Ah. Menurut saya itu luar biasa.

Yang luar biasa adalah bagaimana semua hal yang tadinya saya pikir benar, dipatahkan begitu saja.

Afrika Selatan membuat saya mengerti bahwa apa yang ada di kepala saya tidak selamanya benar. Dan apa yang di kepala orang tidak selamanya benar.

Saya belajar dua hal:
Satu, saya tidak bisa sembarangan membuat stereotype terntentu tentang orang lain.
Dan dua, saya hanya perlu tentang ketika ada stereotype yang salah tentang saya. Dengan menunggu waktu yang tepat, saya mampu membuktikan mereka salah hanya dengan satu pukulah saja.

To-be-noted, ini adalah analogi Afsel dengan pikiran saya. Afsel tidak melakukan apapun tapi dia melakukan hal besar dipikiran saya. jadi jangan ada yang salah paham ya. Siapa tau ada yang dari Afsel atau kenal orang Afsel saya dibakar hidup-hidup jadi persembahan di gurun sahara nanti. :p

#22 Korea Selatan

22 May

Korea Selatan membawa saya ke satu hal. Hanya satu hal: KPop. Sesuatu yang sangat menggiurkan untuk dibahas, tapi saya terlalu tidak tahu untuk pura-pura tahu.

Lalu adakah sisa tentang Korea Selatan yang bisa saya bahas?

Ada! Saya akan bahas Boys Before Flower atau Boys Over Flower – entah yang mana yang benar! Sesudah ini saya akan singkat jadi BBF ah biar ga ribet.

Tidak banyak yang ingin saya ceritakan, saya hanya ingin berbagi bahwa BBF adalah serial Korea pertama yang saya tonton dari awal hingga akhir. Saya bahkan belum pernah menonton Full House secara lengkap.

Kenapa saya begitu tertarik?
1. Cerita BBF merupakan cerita adaptasi komik jepang yang pernah juga dibuat serial di taiwan dengan judul Meteor Garden. Ga usah pura-pura ga pernah nonton Meteor Garden lah ya..
2. Pemain cowok utamanya – duh bahkan saya lupa nama karakternya – adalah ganteng.

Lalu adakah cerita moral dibalik post maha singkat dan tidak beralur ini, Binar?
Sayangnya tidak. Adanya cerita tidak bermoral. Hal yang saya perhatikan dari BBF adalah dalam adegan ciuman, mereka tidak benar-benar ciuman. Mereka hanya… menempelkan bibir masing-masing untuk jangka waktu yang cukup lama. Menurut saya sih… oke, kurang asik ditonton.

Yaudah nonton bokep aja, Bin, kalo mau liat orang ciuman hot!
Ya bukan gitu juga sih… Eh yaudah saya tak nonton bokep aja ga nonton serial Korea lagi.

Aduh maaf untuk postingan yang sedikit ngawur, sudah mengantuk!

Have a good night and a-proper-and-nice kiss, people!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.